Tirmo Ghar

Reads
1
Votes
0
Parts
12
Vote
Report
Penulis Atpress2014

2

Dang, Februari 2002

PADA festival Maghi di akhir musim dingin di daratan Terai Nepal, terdengar suara pukulan madaal yang begitu dekat dan merdu. Suara itu diikuti oleh tawa riang anak-anak yang sedang menari, serta suara orang-orang yang sibuk mengucapkan salam namaste. Selanjutnya, terdengar pula suara nyanyian tradisional, pujian, dan mantra-mantra yang menjadi tradisi perayaan.

Chanira mengangkat kain panjang lehenga agar bisa berlari mengejar teman-temannya untuk menari. Penampilannya sungguh memukau: badannya tertutup oleh lehenga berwarna merah menyala, telinga kanannya dihiasi dengan bunga phuli, dan pergelangan tangannya diberikan kalli berwarna emas yang ber-kilauan. Ia juga dibedaki dengan gilingan beras dan anadi sehingga kulit cokelatnya tampak cerah dan berseri-seri. Seluruh tubuhnya dibalur dengan serbuk cendana, menjadikannya seorang anak perempuan yang cantik dan harum. Semua itu dilakukan Chanira untuk menantikan kedatangan Kisan Muda, seorang tuan tanah yang berjanji memberikan pekerjaan kepadanya. Namun, Chanira tidak tahu apa pekerjaan yang akan diterimanya ketika Kisan Muda datang. Yang ia ketahui dari cerita Ama adalah bahwa ketika sudah berusia sembilan tahun, anak perempuan etnis Tharu harus pergi bekerja ke rumah keluarga lain yang memiliki kelebihan uang untuk menjadi Kamlari. Ini adalah tradisi turun-temurun yang harus dijaga untuk mempertahankan tanah nenek moyang dan agar bisa mendapatkan penghidupan yang layak.

Tak lama kemudian Kisan Muda datang bersama Kisan Tua. Kisan Muda adalah lelaki dari etnis Thapa yang bernama Faneel, sedangkan Kisan Tua adalah perwalian etnis Tharu yang mewakili Chanira. Mereka disambut meriah oleh semua anggota etnis yang dengan kompak mengatakan namaste! sambil melakukan anjali mudra.

Musik madaal dan dholak semakin bertalu-talu, keceriaan bertumpah ruah di tengah-tengah keramaian, melebur menjadi bagian dari kemegahan festival Maghi.

Chanira dan teman-temannya menyambut kedatangan Kisan Muda dengan melakukan tarian Maghauta, sebuah tarian yang menjadi simbol rasa syukur kepada dewa pada perayaan Maghi setelah panen, yang diiringi lagu Sakhiya Ho Maghak Pili Guri Guri Jaanr.

Babaki sagar gainu muriya lahan re haan[1]

Sakhiya ho tikuli chhutal paani ghaat[2] ….

Chanira menari dan menari. Kakinya mengentak-entak tanah, tangannya bergerak mendayung-dayung. Pukulan-pukulan pada madaal meningkahi setiap gerak laku mendayung. Ia berputar, melingkar, lalu melompat. Ketika tiba waktunya Kisan Tua dan para sesepuh adat merapal mantra dan doa di tengah tarian itu, angin berdesir lembut sebagai pertanda bahwa roh para leluhur telah datang.

Haan haan haan ….

Roh para leluhur yang bersemayam di hutan-hutan dan di bawah tanah Rumah Mudko yang baru saja tiba, dipikat untuk turut serta dalam tarian-tarian pesta. Di antara mereka ada yang merasuki tubuh anak-anak yang sedang menari, terutama tubuh Chanira yang tampak elok dan harum.

Pukulan pada madaal dan dholak semakin bertalu-talu. Chanira dan kawan-kawan menari tanpa henti mengembarai semesta roh. Sementara itu, Kisan Tua dan para sesepuh adat duduk bersila melingkari mereka, sambil terus merapal mantra.

Kisan Tua dan para sesepuh adat tahu jika roh para leluhur yang datang dari berbagai masa sedang memberkati mereka. Terutama memberkati anak-anak perempuan yang sebentar lagi akan menjadi Kamlari. Kemudian, tubuh Chanira dengan jiwa yang masih mengembara di dunia leluhur, bergerak dan mengentak begitu cepat. Semakin cepat dan cepat. Bunga phuli terlepas dari telinganya, tubuhnya terjatuh, ia baru saja kembali dari dunia roh, sedangkan anak-anak lain masih menari dengan begitu lincah.

Haan haan haan ….

Sementara di luar sedang khusyuk menari dan bernyanyi, ibu-ibu di dapur tengah sibuk menyiapkan beragam makanan dan minuman. Tilkeladdu dan khichari sudah ditata rapi di atas piring donnya dan tepri, sedangkan dhikri baru diangkat dari painas. Tak lupa, ibu-ibu menuangkan daaru ke kaleng-kaleng minuman. Daaru adalah minuman favorit semua orang, khususnya bagi orang-orang dewasa etnis Tharu.

Chanira dan seorang anak laki-laki yang telah selesai menari, duduk bersebelahan di dekat api unggun sambil menikmati sari manis yang terbuat dari anadi. Mereka bercakap-cakap ringan. Anak laki-laki itu adalah sahabatnya. Ia bernama Imay.

“Tuan Kisan Thapa itu akan jadi buba-mu?” tanya Imay.

“Kata Ama, kami sangat miskin, itu sebabnya Tuan Kisan Muda datang untuk memberi kami uang. Tapi Imay, aku tak tahu miskin itu apa. Apa kamu tahu?”

“Mungkin miskin itu karena tak ada buba-nya. Buba-ku tak pernah bilang kalau kami miskin, berarti kami tidak miskin, kan?” jawab Imay sambil tersenyum, menampakkan kedua gigi depan besarnya, lalu lanjut berkata, “Kata Buba, semua harus setara, tak boleh ada yang dikecilkan, dan selagi ada Buba, tak ada yang miskin. Makanya Tuan Kisan itu datang untuk menjadi buba-mu agar kamu tak lagi miskin, Chanira.”

“Aku tak mengerti perkataanmu, Imay,” kata Chanira.

Imay hanya tersenyum, menyiratkan bahwa ia juga tidak paham dengan apa yang dikatakannya. Kemudian, Ama dan para ibu lain keluar membawa makanan dan minuman. Semua orang merapat ke meja panjang untuk menikmati hidangan.

Chanira beralih duduk di dekat Ama dan adik perempuannya, Ishika, yang terus-menerus menangis ketika mengetahui kakak satu-satunya itu akan pergi jauh meninggalkan desa dalam waktu yang lama. Ama juga tampak menahan tangis, tetapi kesedihan itu ia bungkus sedemikian rupa dengan senyuman. Namun tetap saja, Chanira menyadari topeng yang sedang dikenakan Ama. Ia pun memeluk Ama.

Ama yang diwakili oleh Kisan Tua sebagai penanggung jawab, telah bermufakat dengan Kisan Muda mengenai keputusan kontrak Kamlari Chanira. Keduanya sepakat untuk menetapkan harga sebesar 2.500 rupee dengan menandatangani perjanjian yang berisi:

1. Kontrak Kamlari berlangsung selama satu tahun dengan total uang yang didapat sebesar 2.500 Rupee, dibayar secara bertahap setiap minggu kepada Ama.

2. Terdapat jaminan perlindungan dan keamanan bagi Chanira, keluarga Ama, dan Kisan Tua di Dang.

3. Jaminan makanan, layanan kesehatan, dan tempat tinggal yang layak untuk Chanira selama bekerja di Kathmandu.

4. Jaminan pendidikan khusus untuk anak perempuan yang berstatus Kamlari.

Ama tahu bahwa 2.500 Rupee bukanlah harga yang pantas untuk Chanira. Namun, sekeras apa pun ia menaikkan tarif, harga itu tetap mandek di 2.500, yang sangat tidak sebanding untuk seorang anak perempuan yang harus bekerja menjadi pembantu rumah tangga untuk keluarga Thapa di Kathmandu. Terlebih, Nepal sekarang sedang dilanda ekonomi akibat masalah politik yang berkepanjangan.

“Ama juga dulu sepertimu. Tapi kamu lebih beruntung, sayang. Sebab, Kisan Muda adalah lelaki Thapa yang bekerja sebagai tentara Gurkha, tentara kebanggan Nepal, dan beliau layak disebut sebagai tempatmu untuk pulang. Tak perlu khawatir, ia akan melindungimu dan melindungi keluarga ini. Dan selalu ingat pesan Ama, jika di Kathmandu kamu melihat orang dewasa yang sedang bertengkar hebat, maka berlindunglah bersama tentara Gurkha. Mereka adalah penolong yang diberikan petunjuk oleh para leluhur. Tapi selalu ingat pesan Ama, jika ada orang di Kathmandu yang mengajakmu pergi ke Baglung, jangan pernah mau!”

Chanira tidak mengerti dengan nasihat panjang dari Ama. Apa itu Gurkha? Apa itu Baglung? pikirnya. Namun, karena ia sudah sangat lelah dengan rutinitas hari ini, ia hanya mengangguk.

Lalu, air mata Ama yang sudah tidak bisa lagi dibendung, menetes begitu saja. Ia mengambil saputangan dari sakunya. Melihat kondisi itu, anggota keluarga lain mendekat dan merangkul. Mereka semua menangis dalam pelukan yang begitu hangat. Di tengah-tengah kesedihan itu mereka percaya bahwa dewa-dewi, roh alam, dan roh para leluhur senantiasa menjaga dan mengawasi. Kemudian, Ama mengambil saputangan lain dari saku yang satunya dan meme-gangkannya di tangan kanan Chanira, ia mengajari anak itu cara menghapus air mata dengan cepat, sambil berkata, “Ini adalah pelajaran pertama untuk anak yang akan pergi jauh meninggalkan rumah, Sayang.”

Lamat-lamat, malam semakin larut. Chanira pun bergergas pergi bersama Kisan Muda menuju Kathmandu.


[1] Ya, air sungai Babaki sangat indah.

[2] Sahabat, air sungai yang jernih mengalir.


Other Stories
Sang Maestro

Mari kita sambut seorang pelukis jenius kita. Seorang perempuan yang cantik, kaya dan berb ...

Hopeless Cries

Merasa kesepian, tetapi sama sekali tidak menginginkan kehadiran seseorang untuk menemanin ...

Dua Mata Saya ( Halusinada )

Raihan berendam di bak mandi yang sudah terisi air hangat itu, dikelilingi busa berlimpah. ...

DAISY’s

Kisah Tiga Bersaudari ...

Waktu Tambahan

Seorang mantan pesepakbola tua yang karirnya sudah redup, berkesempatan untuk melatih seke ...

Garuda Hitam: Sayap Terakhir Nusantara

Aditya Pranawa adalah mantan pilot TNI AU yang seharusnya mati dalam sebuah misi rahasia. ...

Download Titik & Koma